
04 March 2010
Menyulap peti kemas menjadi barang yang fungsional jelas bukan perkara gampang. Tapi Fajar Achyarianto mampu melakukannya. Ia bisa menaikkan pamor peti kemas ‘bekas’ menjadi bisnis menjanjikan yang memberi banyak keuntungan.Renny Arfiani
Membangun usaha dengan modal kepiawaian mengolah barang-barang bekas sudah lazim dijumpai. Faktanya banyak pengusaha sukses lahir dari bisnis semacam ini. Mulai dari pengolahan limbah plastik, kertas, besi hingga limbah yang tak terpikir untuk didaur ulang seperti limbah foto rontgen, compact disk dan masih banyak lainnya. Disini mereka mencoba berinovasi menciptakan fungsi baru dari sebuah barang bekas agar punya nilai kegunaan. Bisnis kreatif tersebut tanpa disadari bisa mendatangkan keuntngan yang melimpah.

Salah seorang yang concern dengan bisnis semacam itu adalah Fajar Achyarianto dengan memanfaatkan media peti kemas. Selama ini peti kemas digunakan untuk mengangkut atau mengirim barang dalam jumlah besar. Tapi jika kondisinya sudah tidak layak pakai kemungkinan bisa merusak muatan yang ada didalamnya. Lalu langkah apa yang mesti dilakukan? Memperbaikinya agar barang itu kelihatan baru bisa saja dilakukan. Tapi langkah itu rasanya menjadi kurang greget. Pria yang kerap disapa Ari ini lebih suka menyulap peti kemas tadi menjadi sebuah ruangan yang yang bisa difungsikan sebagai kantor, rumah sakit, supermarket.

Ide itu bermula ketika Ari merasa tidak lagi menemukan tantangan dari bisnis jual beli container kosong yang ia digeluti. Setelah setahun berkecimpung, ia baru sadar jika container sepintas bentuknya ada kemiripan dengan rumah. “Container punya jendela seperti rumah. Karena latar belakang saya dari teknik sipil, saya mencoba mencari tahu mengenai container office,” kata Ari yang memulai usaha container office-nya dari tahun 1998 dengan modal Rp5 juta.
Untuk membuat container office atau portacamp dibutuhkan peti kemas kosong dengan kondisi 80% baik. Mengingat yang pakai adalah peti kemas bekas maka tidak mudah menemukan barang dalam kondisi sangat bagus. Apalagi melewati berbagai pelayaran di laut maka tingkat korosinya juga tergolong tinggi.
Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 97/Agustus 2009.
0 komentar:
Posting Komentar