21/03/10

Walau Lapar, Pantang Jadi Maling

Senin, 15/03/2010 18:49 WIB
Kisah Lelah Kuli Sindang
M. Rizal Maslan - detikNews

Jakarta - Sukarna (50) bersama teman-temannya masih menunggu mobil proyek datang menjemput mereka di pinggir jalan di Jl Adhayaksa, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Pacul, pengki, dan sekop terbungkus rapi dalam karung di samping mereka.

Rokok sebatang, mereka hisap bergantian. Saling berbagi, rupanya sudah menjadi kebiasaan buruh proyek lepas asal Sindang Laut, Kabupaten Cirebon ini.

"Rokok sebatang saja bisa bagi-bagi, makan dan minum barengan," kata Sukarna kepada detikcom, Senin (15/3/2010).

Bila sepi order dan pemasukan minim, mereka saling menjaga satu sama lain. Dalam kondisi sulit, nasihat dan masukan sesama teman menjadi utama. "Maklum Mas, orang kalau nggak punya duit, nggak makan sehari bisa berbuat apa saja sekarang ini. Tapi, alhamdulillah sampai saat ini rombongan saya nggak satu pun ada yang jadi maling dan garong atau meminta-minta di pinggir jalan," imbuh Sukarna penuh bangga.

Rekan yang sedang kesulitan, biasanya disarankan untuk pulang kampung. "Ongkosnya sih kita patungan. Tapi biasanya, sih gede kecil sampai saja ke kampung," pungkasnya.

Kekompakan para Kuli Sindang juga dikagumi orang-orang kecil lainnya di Jakarta. Misalnya saja Cecep, tukang ojek yang mangkal tidak jauh dari tempat nongkrong para Kuli Sindang. Selama Cecep mangkal, jarang terdengar Kuli Sindang ribut antar teman apalagi berbuat kriminal.

"Mereka diam, terus diam. Duduk menunggu orang yang mau kasih proyek. Mereka diam seharian. Baru gerak kalau ada proyek," katanya.

Diamnya para Kuli Sindang justru menunjukkan betapa mereka sanggup bertahan dalam kerasnya kehidupan di Jakarta. Tanpa keluh kesah, tanpa gengsi dan malu, mereka diam dan menunggu waktu yang tepat saat seseorang mengajak mereka bekerja di proyek.

"Siapa warga Jakarta yang mau bekerja seperti ini?" pungkas Cecep.
(zal/fay)

0 komentar: