21/03/10

“Rokok Mas? Biar Nggak Culun”

Kompasiana, Dwi Agus | 15 Maret 2010 | 09:30

“Rokok Mas?” Begitu kata seorang perokok menawarkan rokoknya saat dia baru mulai menyalakan api. “Terimakasih. Maaf, saya tidak merokok” Begitulah saya biasa menjawabnya. Saya memang bukan perokok karena memang tidak suka pada rokok. Tidak suka asapnya dan juga tidak suka rasanya.Terlebih lagi ketika saya membaca ada ribuan zat kimia dalam rokok termasuk racun-racun yang berbahaya di dalamnya membuat lengkaplah alasan saya tidak merokok.

Masa bodoh dikatakan culun, nggak gaul, nggak jantan, atau apalah yang menyindir kelaki-lakian. Yang penting saya tidak seperti itu. Dalam menghadapi sindiran-sindiran ini kadang terasa panas di kuping, tapi demi kesehatan, maaf aja, tetap saya menghindari rokok.

Entah mengapa, perokok sering tidak peduli terhadap sekitarnya, maksudnya merokok tanpa lihat situasi. Di bus ada banyak orang yang tidak suka rokok, tetap aja merokok. Di rumah ada anaknya yang masih bayi, juga tetap merokok (yang ini rajanya tega). Mungkin bagi perokok, nikmat sekali bau asap rokok, seperti asap sate mungkin. Namun, bagi orang yang kebanyakan tidak merokok, asap rokok membuat pusing, sesak, batuk-batuk, dan pengap. Racun yang seharusnya hanya diisap sang perokok pun akhirnya menyebar dan merasuk ke tubuh orang disekitar yang hanya kebagian asapnya. Bagi perokok, silakan saja merokok sepuasnya, tetapi mohon jangan rusak kesehatan orang lain.

Saya tidak ingin membahas fatwa MUI atau ulama lain tentang halal haram rokok yang saat ini kembali marak. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa merokok itu lebih banyak sisi negatifnya dibanding positifnya, baik bagi diri sendiri dan orang lain. Anda bebas memilih dalam hidup ini, tapi sekali lagi tolong, bagi perokok, pedulilah pada kesehatan orang lain di sekitar Anda.

0 komentar: