
Cerpen: Metta Calizta
Enam bulan sudah usia pernikahanku dengannya. Enam bulan pula aku tak disentuh olehnya. Well, seharusnya aku bersyukur. Berarti Rhe telah menepati janjinya untuk tidak menyentuhku.
Pernikahan kami hanyalah kamuflase. Pernikahan ini dilakukan hanya untuk melaksanakan amanat terakhir kakek kami dahulu, sebelum mereka meninggal akibat membela Bangsa dari penjajah.
Awalnya, aku berontak. Aku tak ingin menikahi lelaki yang tak kucintai. Terlebih lagi, aku tak ingin menghasbiskan usiaku dengan buaya darat itu.
Ya, buaya darat. Rhe tak lebih adalah playboy yang jenius dalam menangkap mangsanya. Dan mangsa-mangsanya selalu saja ‘tak utuh’ setelah Rhe mengakhiri hubungan percintaan laknat itu.
Yang membuatku heran adalah, mangsa-mangsa itu tak ada yang memprotes, menghujat, atau bahkan melaporkannya pada polisi.
“Aku hanya menyentuh gadis-gadis yang telah ternoda, Khanza! Dan aku tak berniat sedikitpun untuk menyentuh gadis-gadis yang menjaga kesuciannya. Karena mereka adalah tiang Negara yang kokoh.” Ucapnya suatu hari, saat kami untuk pertama kalinya tidur seranjang setelah pesta pernikahan.
“Berarti kamu telah membuat parah tiang Negara yang sudah rusak menurutku.” Ucapku sinis. What a bullshit! Ucapannya terdengar merdu namun sebenarnya tak lebih dari sampah! Hanya sebuah pembelaan diri atas perbuatannya yang bejat.
“Aku tak memaksa mereka. Justru mereka yang menginginkannya.” Ucapnya kalem sambil tersenyum manis, hingga lesung pipinya terlihat dan membuatnya semakin tampan. Cuih! Aku semakin muak mendengarnya! Huh! Sok innocent.
“Lalu, bagaimana dengan gadis-gadis yang diperkosa atau mengalami pelecehan? Apa kamu tetap menodai mereka?” Tanyaku tajam, menusuk.
“Ck…ck…ck…Aku tak serendah itu, Khanza!” Ucap Rhe sambil menggelengkan kepalanya. Lalu dia memunggungiku dan tertidur lelap.
Aku tercenung. Malam pertama yang dingin.
Setelah malam pertama itu, aku berusaha menjaga jarak dengannya. Untunglah orangtua kami jarang datang, jadi tak sulit kulakukan.
Yang sulit adalah, ketika Rhe menginginkan hal yang seharusnya terjadi dalam pernikahan, terutama setelah dia menonton film-film yang vulgar. Nafsunya tak tertahankan lagi. Dan dengan panik, cepat-cepat aku harus memadamkannya.
Pernah suatu kali, saat nafsunya tak terbendung, ia memelukku dari belakang. Padahal waktu itu aku mau tidur! Tangannya mulai memasuki piyamaku. Aku pun panik dan untunglah, aku pun menemukan sebuah cara.
“Main kartu remi, yuk!” Ajakku saat itu. Akhirnya, kami pun bermain kartu. Rhe sesaat sempat menatapku dalam dan tajam. Tampaknya dia tahu niatku untuk mengalihkan nafsunya. Tapi, dia diam saja.
Hubungan kami semakin lama semakin hambar. Kami mulai bersikap acuh tak acuh. Hanya seperti hubungan pertemanan. Jika memberi perhatian, itu hanya sekadarnya. Yang dia lakukan yang lebih dari sekedar menanyakan, “sedang apa?” atau “sudah makan, belum?” adalah membelai rambutku. Hanya itu.
Namun, perlahan-lahan tanpa kusadari, aku mulai jatuh cinta kepadanya. Aku mulai tersentuh akan ketulusan dan tanggung jawabnya. Dia membuatku merasa aman, nyaman, dan dimanjakan seperti seorang wanita.
Tapi, saat aku mulai mencintainya, hatiku mulai terasa sesak. Kontrak pernikahan kami akan segera berakhir. Enam bulan setelah pernikahan kami harus bercerai dan menjalani kehidupan masing-masing. Aku akan merindukan perhatiannya, senyumnya, dan juga belaiannya pada rambutku.
Sebenarnya, aku pun ingin tahu. Apakah dia mencintaiku atau tidak. Hatiku mengharapkan dirinya. Aku ingin sekali dia mempunyai perasaan yang sama denganku. Aku ingin kami saling mencintai. Namun, itu tak mungkin. Melihat dari daftar mantan-mantannya, aku rasa dia pasti lebih menyukai gadis cantik dan berkelas. Yang sederajat dengannya. Bukan denganku yang hanya berasal dari rakyat biasa.
Dan saat ini, aku berdiri di ruang perpustakaan pribadi di rumah kami, yang merangkap ruang kerja Rhe. Melihatnya memilih-milih buku yang akan di baca dan aku berharap tak akan melupakan sosok pria yang bertubuh tinggi dan tegap itu. Tanganku gemetaran memegang surat perceraian. Hatiku mulai rapuh. Air mataku terasa ingin meloncat keluar. Rasanya aku tak ingin berpisah dengannya. Tidak Khanza! Kamu harus melakukannya! HARUS!!
Maka, aku pun berkata, “sudah saatnya.” Nada suaraku bergetar, menahan tangis.
Rhe terdiam. Lama. Bukannya bereaksi, dia malah asyik membolak-balik halam buku. Oh, sepertinya dia tak peduli!
Aku melanjutkan perkataanku, “ini tanggal 3 Februari. Dan di tanggal inilah kontrak kita berakhir. Aku sudah menandatangani surat perceraian. Hanya kamu saja yang belum.”
“Lalu?” Tanya Rhe, membuatku tersentak kaget karena sikap acuhnya.
“Ini surat perceraiannya. Jangan terlalu lama Rhe, karena kita harus mendaftar untuk sidang perceraian.” Aku meletakkan surat itu di meja kerjanya, setelah menghela nafas. Berusaha menguatkan hatiku yang mulai terobrak-abrik.
Aku lalu berbalik, hendak keluar ruangan. Selamat tinggal, Rhe! Selamat tinggal suamiku tersayang! Batinku tersayat-sayat. Bukan hanya karena aku akan berpisah dengannya, namun karena Rhe tak menganggapku sebagai istrinya.
Tiba-tiba tubuhku terdorong kebelakang. Aku merasakan tangan Rhe melingkariku. Rhe memelukku dari belakang dan mencium pipiku. Hangat. Lembut. Dan penuh perasaan.
“Aku mencintaimu, Khanza! Aku tak mau ditinggalkan olehmu.” Ucapnya lembut.
Air mataku meleleh mendengarnya. Hatiku membubung tinggi. Dan aku pun jatuh ke dalam pelukannya.
THE END
0 komentar:
Posting Komentar