Jumat, 19/03/2010 14:25 WIBPenikmat Cerutu M. Rizal Maslan - detikNews
Jakarta - Ingat Kuba, ingat cerutu. Inilah rokok khas negeri Fidel Castro. Cerutu juga dinikmati sebagian orang di Jakarta. Bagi mereka, seolah ada Kuba dalam setiap kepul cigar.
Aroma cerutu yang khas langsung menyengat hidung, begitu membuka pintu salah satu counter di pojokan Plaza Indonesia. Aroma itu berasal dari cerutu milik pria yang tengah asyik berbincang-bincang bersama dua rekan wanitanya. Obrolan bisnis terdengar santai diselingi tawa dalam kepul asap cerutu.
Begitulah suasana Havana Gallery di Plaza Indonesia, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat. Havana Gallery merupakan satu-satunya tempat yang menjual rokok khas Kuba dan negara Amerika Latin ini. Di tempat ini pula, sejumlah pebisnis meluangkan waktunya menghilangkan kepenatan dengan menghisap cigar, panggilan akrab cerutu.
Menghisap cigar bisa juga dibarengi sambil melakukan negosiasi bisnis atau bertukar pengalaman soal cigar. Misalnya saja Renville, seorang konsultan desain interior, Havana Gallery adalah tempat bersantai sekaligus melancarkan bisnis.
"Cigar kan tidak bisa dihisap di sembarang tempat seperti di pasar," katanya dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (18/3/2010) malam.
Menurut Renville butuh tempat khusus untuk menikmati cigar. Tujuannya agar tercipta suasana rileks. Obrolan bisnis dengan sesama penikmat cigar pun pasti lebih akrab. Renville senang menghisap cigar ditemani air putih.
"Karena rasa cigar akan terasa murni, tidak bercampur dengan minuman lainnya," ujarnya tersenyum sambil mengepulkan asap cigar dari mulutnya.
Ucapan Renville dibenarkan Lydia Tamboto, importir dan pemilik Havana
Gallery. Penghisap cerutu harus menyiapkan mood, waktu dan memilih
tempatnya. Dipikir-pikir juga, maua sendirian atau mengajak teman seperti Lydia bersama Renville saat ini.
"Jadi kalau bete, sakit atau demam, apalagi lagi putus cinta, mikir tagihan, tidak enak menyigar. Sebab, menyigar berbeda dengan perokok lainnya," ungkap Lydia kepada detikcom.
Harga sebatang cigar bisa dibilang mahal. Sudah tentu hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmatinya. "Harganya ratusan ribu, beda dengan rokok yang bisa di mana saja. Dari kalangan atas sampai bawah pasti merokok," jelasnya.
Lydia tidak tahu pasti jumlah penikmat cerutu di Jakarta. Banyak juga pembeli cerutu yang membeli cerutu mereka di luar negeri seperti di Amerika dan Eropa. Hal ini tentu beda dengan rokok yang kelihatan ada industrinya dan konsumennya. Sedangkan penikmat cigar biasanya hanya seminggu sekali menghisap cerutu.
"Cigar juga tidak bisa di inhale (sedot hingga tenggorokan) seperti rokok. Apalagi cigar yang berat bisa bikin pusing, muntah-muntah, tentunya akan bikin kapok," tegasnya.
Konsumen pun tidak bisa langsung suka dengan cerutu. Butuh waktu untuk beradaptasi. Selain itu ada beragam produk dan setiap orang pasti punya selera sendiri. "Kalau belum menemukan yang cocok, penyigar akan langsung berhenti. Menunggu satu atau dua bulan lagi untuk menyigar," katanya.
Lydia menolak anggapan bila cigar selalu berkorelasi dengan minuman keras seperti Cognac dan Whiskey. Banyak penikmat cigar yang memilih ditemani kopi atau teh tarik, bahkan air putih seperti Renville. Lagi pula tidak cocok jika siang hari meminum Whiskey atau Cognac.
"Untuk apa beli cerutu yang harga sebatangnya bisa ratusan ribu ditemani minuman yang nambah pusing. Lebih baik ngopi atau minum teh tarik. Gimana enaknya aja," katanya.
Lydia mengatakan, jumlah penikmat cerutu terus bertambah dan akhirnya mulai membentuk komunitas. Nah yang menarik, anggota komunitas sering berbagi dan bertukar cerutu. Ada keasyikan tersendiri untuk mereka. Berbagi rokok tentu tidak bisa dibandingkan dengan berbagi cerutu. Ada pengalaman baru untuk mereka.
"Di sini berbagi pengalaman menghisap cigar, kalau sudah berbagi tentunya penyigar akan mencoba pilihan lainnya. Ada chemistry yang menyatukan mereka lebih erat," pungkas Lydia sambil menunjukan sejumlah foto komunitas penggemar cerutu.
(zal/fay)
0 komentar:
Posting Komentar